Spread the love

Kematian Membuahkan Penyelamatan

Bacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 7 : 54-58

Oleh : Dr. F.X. Jeffry Harimurti, M.Pd.K.

Ditengah kebencian, permusuhan, geram, amarah, amukan massa yang membabi buta, dapatkah kita melihat Tuhan? Biasanya reaksi yang muncul dalam diri kita adalah rasa takut, putus asa, dan dendam. Seandainya kita punya kekuasaan, mungkin teror, kebencian, geram, dan amarah itu akan kita timpakan kepada orang yang memusuhi kita agar mereka juga mengalami penderitaan yang sama. Dalam kondisi diujung maut, Stefanus melihat kemuliaan Allah dan Anak Allah. Menghadapi kemarahan yang disertai dengan tindakan brutal dan kekerasan, kasih Stefanus kepada Allah dan sesama tidak pudar. Ia percaya bahwa Allah itu baik. Dia memiliki rencana yang indah bagi setiap hamba-Nya. Meski kenyataan sering kali berbeda dengan harapan, Stefanus memilih untuk percaya. Walau mereka menganiaya dirinya. Stefanus tidak mengucapkan sumpah serapah.

Mati Untuk Hidup

Ia percaya bahwa kodrat manusia itu baik. Kuasa dosalah yang menyebabkan manusia kehilangan citranya sebagai gambar Allah. Karena itu, dalam doanya ia meminta Tuhan tidak menghukum perbuatan mereka. Dalam damai dan cinta, Stefanus meninggalkan dunia ini. Persus seperti junjungannya, Yesus Kristus, yang disiksa dan mati disalib. Bagi Stefanus, penderitaan yang dialaminya merupakan suatu ungkapan syukur karena ia diberi kesempatan oleh Allah untuk memanggul salibnya sendiri dan mengikuti Tuhan Yesus sampai mati.

Meninggalkan Cara Hidup Lama

Sikap hati dan cara berpikir itulah yang membuat Stefanus mampu melihat Tuhan. Tentu saja itu bukan karena kehebatannya, melainkan anugerah Allah semata karena keteguhannya dalam mempertahankan iman hingga akhir hayat. Jika mengalami penderitaan, hinaan, dan penganiayaan yang hebat karena nama Yesus, maka patutlah kita bersyukur. Karena melalui kesaksian hidup kita, Allah sedang melakukan karya penyelamatan bagi mereka yang belum mengenal dan menerima Yesus sebagai juru selamat. Maukah kita meneladani Stefanus, yang mengikuti jejak sang guru yaitu Yesus Kristus demi tercapainya visi kerajaan Allah di dunia?